Tuesday, June 11, 2013

Belanja-blanji Dari Hape

Suatu hari, ada SMS seperti ini masuk ke smartphone saya:


Udah pada tau kan apa itu XLTunai?
Yap, ini adalah layanan uang elektronik dari XL yang memungkinkan kita untuk melakukan banyak transaksi kayak bayar ina-ini-ina-itu dan belanja belanji banyak items secara online maupun offline. (Belum punya? Bisa cari tau cara daftarnya di sini kok). 


Tapi, pada tau nggak kalau ternyata sekarang ini XL Tunai udah bisa terkoneksi dengan dua operator besar lain? Nah, saya juga baru tahu setelah liat sendiri temen saya si Adham asik "mainan" hape pas kopdar beberapa hari lalu. Ternyata, Adham ini lagi hepi-hepinya belanja berbagai aplikasi dan barang-barang di online shop pakek XLTunai-nya. (Hahaha... ternyata cowok juga bisa keranjingan belanja hahaha...).  Gimana nggak kalap, merchant XLTunai ini ini banyak banget: blibli, disdus, alfamart online, tiket, wah... ini belum termasuk yang offline kayak Alfamart, Glosis, 347, dan sederet merchant lainnya. Buat yang malas ribet transaksi pake e-banking atau nggak sempet ke ATM juga bisa manfaatin XLTunai ini untuk bayar tagihan macam-macam termasuk beli voucher listrik prabayar lho! 

Dari ngintip-ngintip ke layar hapenya Adham yang KW2 Joe Taslim ini juga akhirnya saya lihat sendiri gimana transaksi lintas operator antara XLTunai dengan T-Cash punya Telkomsel dan Dompetku milik Indosat ini bisa terjadi. Yang penting sih, antara pengirim dan penerima duit udah terdaftar di masing-masing layanan duit elektronik ini (ya iyalah!)

Flow buat transfer dari XLTunai ke T-Cash/Dompetku begini nih: 


Gak ribet ya? Semua bisa dikendalikan lewat touch screen dan keypad hape. Kalau saya sih mikirnya, fasilitas ini akan sangat berguna buat ngirim-ngirim duit anak kos. Sebab, selain XLTunai ini juga bisa ditukar jadi uang tunai lewat kerjasama dengan Alfamart sebagai salah satu merchant yang gerainya ada di mana-mana. Kemudahan ini bakal membuat orang semakin rela ketinggalan dompet daripada hape 8D... 

Terus gimana dengan security setiap transaksinya? Kalau hape ilang? Ah ya, layanan ini juga dilengkapi dengan PIN setiap kali akan bertransaksi kok. 

Udah punya XLTunai terus? Transaksi yang banyak ya, setiap transaksi akan ada bonus poin yang bisa ditukar pulsa sampai hadiah berupa sepeda motor hohoho... cek deh ke sini.  Buat nambah poin kamu, boleh lho transfer ke XLTunai saya *wink* ^_______^

Monday, June 03, 2013

Satu Siang Di Simatupang

Siapa sangka di penghujung jalan Simatupang yang panjang *rhyming* ada tempat lucu buat hang out yang terjangkau kantong kelas menengah ngehek

Selama ini jalan Simatupang identik dengan kompleks perkantoran (yang terus tumbuh, salah satunya efek migrasi dari keengganan berkantor di pusat Jakarta yang makin susah digapai tanpa menyebut kata macet.  Iya, seiring bergesernya aktivitas bisnis ke selatan Jakarta, pernah nggak kebayang kalau ada tamu agung dari mancanegara bertandang ke kantormu mau diinepin di mana? Senayan? Silakan, kalau tahan macetnya yang cukup buat ngerebus indomeh-makan-dan-rebus-lagi saking lamanya 8D.... Menjawab kebutuhan itulah, barangkali salah satu alasan keberadaan Hotel Mercure yang mengambil lokasi stratehis ini. Aksesnya gampang sih, termasuk buat sayah yang sehari-hari menggunakan angkutan umum: dari stasiun Tanjung Barat cuma makan gak lebih dari 20 menit untuk mencapainya. Ini udah termasuk macet-macet kecil. Karena berdekatan dengan terminal Lebak Bulus dan tentu aja dilalui bis DAMRI tentu nggak susah buat menemukannya.

Nah, beruntung sekali dua minggu lalu saya (dan belasan blogger lain) diberi waktu untuk merasakan brunch di hotel yang termasuk grup Accor ini. Bernuansa summer, dari ketinggian lantai 19 rooftop kami berbondong-bondong menjadi saksi aksi seru chef Mustari. Baru datang sudah disambut kesegaran green lime ini, wooohoooo.... berasa berenang di telaga nan teduh seteduh tatapmu. Oke, lebay! Yang bener, segernya menandingi riak air kolam yang berkecipak di area berjuluk SLAM (Sky Lounge at Mercure) ini! 
Green Lime! 

Sambil menyesap kesegaran green lime, bergulir menu-menu simple dengan rasa yang nggak sesederhana itu. Bikin tambah lapar, dan bergulirlah demo masak fettucini dengan saus jamur dan smoked beef yang makin gurih berkat taburan keju parmesan itu. Tentu aja, usai demo sajian ini bisa segera bermirasi ke perut kami.  Yak! Program penggendutan badan dimulai ~~~~\o/ 

Pasta! Mamamia lezatnya!
Sambil mengunyah pasta gepeng, atraksi meracik minuman segar pun tersaji. Ada dua jenis minuman: sangria dan strawbunny. Yang disebut pertama, dengan berat hati harus saya skip karena alasan prinsip hehehe... Sementara strawbunny ini termasuk yang wajib disuka bagi pecinta hidup sehat. Komposisi plain yoghurt-strawberry-berries dalam strawbunny ini bisa dipastikan bakal jadi pemasok nutrisi, bakteri baik, pleus antioksidan yang nggak diragukan kesaktiannya dalam menjadi penjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Enaknya, meski ngenyangin tapi nggak bikin gendut! Tau kan kenapa? Yap, kombinasi cantik pasokan Lactobacilus dengan serat pada buah berries yang dipakai ini menyumbang peran bagus sebagai antikonstipasi.  Karena menggunakan buah segar, bisa dipastikan berapa banyak vitamin yang disumbangkan pada strawbunny! 

Sangria! Seger sih, tapi... 

Strawbunny yang yummy!
Nyatanya kejutan nggak berhenti sampai di situ, klimaks dari keriaan siang itu adalah makan siang sampai kenyang di Graffiti Brunch. Horeeeee \o/ *loncat ke lantai satu* 

Vas bunganya unik: dari kaleng kemasan makanan
Dengan kapasitas lambung yang sangat terbatas, tentu saja saya musti pintar-pintar mengatur asupan hidangan yang semuanya terpampang di depan hidung dengan tampilan yang enak dan enak banget! Huhuhu....Pilihan pertama saya: bakar-bakaran! Tepatnya dibakarin sih, kita tinggal pilih sendiri bahan mentah yang tersedia: dari Cephalopods sampai sapi (tentu pilihan saya hidangan laut!) kemudian serahkan pada tim pembakar, tambahkan saus sesukanya dan voila! *jilat-jilat piring keenakan*. Strategi makan enak tanpa takut kekenyangan adalah ambil dalam porsi kecil.  Maka, bergulirlah satu demi satu: dim sum, sushi, chocolate mousse, chocolate cake, es krim..... 

Sushi dan sashimi! Jangan lupa habiskan acar jahenya biar gak gendut

Serba cokelat, feels like heaven
Rasanya berat badan saya mendadak naik 2 kilo habis makan-makan di sini!

Surprisingly, untuk makan segambreng dengan banyak banget pilihan itu kita cuma perlu merogoh duit sebesar 150rb++ ajah! Dan, Graffiti Brunch ternyata lagi bikin promo diskon 50% buat orang kedua, jadi cucok sekali buat yang lagi pedekate atau selebrasi hari jadi tanpa bikin dompet robek! Promo ini berlaku buat Minggu siang, antara jam sebelas dan jam dua. 


Eh ya, di lobby hotel Mercure ini juga tersedia drop box untuk batere bekas pakai lho! So, kalau kamu lagi nginep atau sekedar makan-makan di Graffiti, kamu bisa menitipkan batere bekas pakai di sana. Kelihatannya sederhana banget ya, tapi langkah kecil ini sungguh berarti buat kelestarian bumi. Udah tau kan kalau batere sekali pakai mengandung logam berat yang bahaya kalau dibuang begitu aja di alam, sehingga perlu penanganan khusus sebelum melepasnya ke lingkungan. Kalau bukan kita, siapa lagi dong yang peduli sama bumi?  
Drop box untuk batere bekas pakai

Kalau kamu 






Wednesday, May 29, 2013

KCMI: Konser Cinta 3 Generasi



Vina Panduwinata, KLa Project, Glenn Fredly...

Tiga nama yang besar di tiga dekade berbeda, dan ketiganya sampai saat ini masih eksis di panggung musik Indonesia. Trus, apa jadinya kalau tiga nama besar itu menyatu dalam satu perhelatan? Inilah yang dipersembahkan dalam gelaran bertajuk KCMI atau Konser Cinta Musik Indonesia awal Mei lalu. Dan inilah rekaman kebesaran nama ketiganya dalam catatan tangan keyboard laptop saya... 

KLa Project

Empat tiga anak muda Jakarta membentuk grup musik dari inisial nama mereka, dengan tambahan vokal manis menggebrak Indonesia di akhir 80an lewat tembang bergenre pop progresif. Sekejap, Tentang Kita meraja di tangga lagu radio-radio paling hits di masa itu. Hingga kini, KLa Project yang identik dengan musikalisasi lirik puitis itu masih tercatat jadi salah satu musisi yang layak dinanti. 

Membuka KCMI dengan tembang Terkenang, ini mengingatkan saya ketika pertama kali menyambangi konser KLa di kampus kuning belasan tahun silam. Lantas bergulirlah tembang-tembang mistis yang membius, tanpa terlupa Yogyakarta yang melegenda tentu saja. Meski vokal Katon tak di puncak prima, gaya panggung duda ganteng ini masih sama seperti dulu: atraktif dan komunikatif. Ada yang tak biasa, KLa memilih lagu Baiknya yang sangat tidak familiar jika bukan KLanese. Saya sendiri mengakrabi lagu yang berkisah tentang cinta-karena-iba ini tak lain karena kasetnya bertengger di rak musik di rumah. Curhat Katon sang vokalis yang baru saja melepas kisah? Bisa jadi...

Apa pun, KLa malam ini bukan cuma milik KLanese atau mereka yang besar di era 90an. Nyatanya, banyak anak muda di rentang usia 25 terpukau dan mengakui keindahan karya KLa. Hmmm... artinya gelaran konser 25 tahun KLa wajib masuk agenda tontonan tahun ini! 

Vina Panduwinata

Berjuluk "Burung Camar", Vina Panduwinata masih saja memikat di usia separuh abad. Meski tiga lagu pertama yang dilempar kurang dikenal (mungkin karena hanya sedikit penonton konser ini dengan rentang usia di masa jaya Vina), kepiawaian Vina berkomunikasi nyatanya nggak mengurangi antusias audiens untuk berinteraksi. Suara centilnya yang sungguh khas, diimbangi juga dengan interaktivitas yang nggak kalah centil *menyerah kalah centil malam itu*.

Atraksi serupa saya dapatkan saat mama Ina berbagi panggung dengan para musisi gaek era 80an di konser Indo80 yang lalu.  Selebriti muda era kekinian harus belajar banyak pada mama Ina, bukan cuma menjaga suara tetap prima tapi juga menjalin interaksi panggung dengan audiens yang beragam dan nggak semua kenal lagu-lagunya. 

Glenn Fredly

KCMI ditutup oleh nyong Ambon manise, salah satu high quality jomblo yang berhasil bikin cewek-cewek meleleh lewat lirik melankolisnya.  Yakin, pasti banyak yang rela antri karcis KCMI malam itu demi melihat performa Glenn!

Putih, lagu romantis, adalah Glenn. Bersama band pengiring, entah apa namanya tapi ada Nicky Manuputty yang hembusan udara lewat saxophone-nya membius seisi Tenis Indoor Senayan. Sakti! Koor bareng sudah pasti nggak bisa dihindari. Sambil sesekali menyeka air mata haru karena tiap tembang menggiring pada sepotong kenangan, yang pastinya membekas dalam *lebay*. Beberapa pasangan tertangkap mata bergandengan, baik di area festival maupun kursi di barisan bronze-silver-gold. Ah....

Selain membawakan hits-nya yang bikin mata tiba-tiba berkaca-kaca *brb ngambil saputangan merah jambu* Glenn juga memainkan dengan lincah Kala Cinta Menggoda milik alm. Chrisye. Wooo hooo.... 

Puas? Nggak sih. Penyebabnya karena Glenn melewatkan Januari yang legendaris itu. Kenapa sih Glenn? 

Nggak nyesel sih mengeluarkan tiga ratus ribu (bohong sih, aslinya harga diskon kok!) untuk tiga penyanyi dari tiga generasi ini. Dibanding konser Indo80, KCMI lebih terarah dalam menggulirkan para penampil. Meski saya sempet kecele, kirain ketiganya bakal tampil sepanggung trus nyanyi bareng lagu apa gitu...

Eh ya... at the end, saya ketemu cowok ganteng yang merupakan salah satu "peninggalan" kejayaan era 90an. Ihik... ada yang tau siapa namanya? 



Wednesday, April 17, 2013

Pinter Dalam 140 Karakter

imgsrc: wikipedia
Belakangan ini saya merasa "gerah". Bukan, bukan karena suhu Jakarta di siang hari yang mostly di atas 30 derajat Celcius. Tapi, karena melihat info-info "ilmiah" bersliweran di twitter ditebarkan tanpa dasar dan serba separuh. 

Berawal dari kampanye susu kalengan, yang dikabarkan bagus banget buat kesehatan. Nggak, saya nggak antisusu kok walaupun perut saya menolak minuman yang buat sebagian orang itu enak banget. Hanya saja, ketika informasi yang bersifat ilmiah, apalagi mengusung unsur medis, disampaikan setengah-setengah tentu saja ini bisa berpotensi menyesatkan. Awalnya ketiga seorang teman mempertanyakan kenapa si susu kaleng ini harganya lebih mahal daripada dus tetrapak. Jawabannya sungguh bikin saya --yang sempat setahun bermain-main dengan para bakteri termasuk penghuni susu-- nyengir miris karena dijawab bahwa si susu kaleng itu "lebih steril" ketimbang merk lain dalam dus tetrapak. Sayang, argumen tersebut cuma meneruskan pesan dari bagian marketing si produk yang tentunya punya strategi beda-beda untuk tiap brand yang dipasarkan.

Argumen yang tentu saja lemah. Kenapa? Untuk membuat susu cair jadi steril, setau saja (tolong kasih tau ya kalau sudah ada teknologi baru) cara yang dikenal di industri adalah lewat pemanasan singkat bersuhu ultra tinggi (dikenal dengan nama UHT) atau temperatur renda- tapi-rauwisuwis alias lama banget (nama kerennya pasteurisasi) untuk mematikan bakteri beserta spora-sporanya.   Apa bedanya dengan susu dalam dus? Toh caranya sama? Atau karena kaleng adalah penghantar panas yang lebih baik sehingga asumsinya bakteri udah kepanasan jika si susu terpapar cahaya? Worse case, ada beberapa jenis bakteri yang sporanya bertahan dan justru terstimulasi untuk berkembang biak setelah dirangsang oleh panas. Jadi?

Masih tentang kampanye si susu, tema yang diangkat kali ini adalah kesaktiannya sebagai senjata detoks(ifikasi). Wait, saya perlu membuka kamus untuk mengetahui apa sih pengertian detoksifikasi ini. Dan menurut kamuskesehatan, detoksifikasi adalah pengeluaran racun dari dalam tubuh. Beberapa artikel populer (udah males baca jurnal ilmiah >,<) menyebutkan puasa sebagai salah satu metode detoks selain olahraga, sauna, dan minum air putih. Ada juga sih yang melakukan detoks dengan hanya minum jus buah tertentu selama beberapa hari. So, mari pikirkan bagaimana mekanisme susu mengeluarkan racun dalam tubuh!

Masih banyak "manfaat sehat" yang disebarkan di media, misalnya bahwa susu ini aman buat yang alergi. Gimana dengan lactose intollerance? Aman? Katanya sih iya, kata google. Nggak tau gimana caranya laktosa diurai kalau tubuh udah menolak. Oh ya, yang terbaru di majalah wanita memaparkan kalau varian lain susu ini juga merupakan antioksidan sehingga bagus untuk menjaga kesehatan kulit. Oh.. ternyata antioksidan yang dimaksud adalah vitamin E. Di banyak artikel, antioksidan sering berwujud makanan alami seperti teh hijau, buah berries, sayuran berwarna hijau pekat dan baru kali ini saya menemukan literatur (yang ternyata advertorial) dan setelah saya crosscheck di sini, ternyata susu yang mengandung antioksidan adalah susu yang diperkaya. Diperkaya berarti ditambahkan zat-zat khusus selama proses produksi sehingga mengandung elemen yang diinginkan. 

Belum cukup keheranan saya, ditambah lagi kejutan dari sebuah akun "dokter" @doktercare yang menyampaikan "bahaya" jeruk nipis bagi pengidap glaukoma dan ibu hamil karena bersifat stimulan:

WEBMD : SEBAIKNYA HINDARI KONSUMSI JERUK NIPIS SELAMA HAMIL & MENYUSUI krn ada efek STIMULAN BAGI TUBUH 

Sayang, di tweet berikutnya si dokter yang hobi banget pake caps lock ini nggak pernah menjelaskan stimulan apa yang dimaksud. Yang ada info "umum" seperti bahaya minum jeruk nipis bersama minuman berkafein karena meningkatkan tekanan darah (and everybody knows the caffein effect!). Selebihnya info jualan alat kesehatan >,<

Kita tahu, twitter hanya berkapasitas 140 karakter. Keterbatasan ini seringkali diakali denga serial tweet atau yang lebih beken dengan sebutan kultwit. Tapi, sekali lagi berapa persen tweeps yang sudi membaca tweets secara komprehensif? Ada chirpstory, tapi sekali lagi berapa orang yang mau mengklik tautan berisi rangkuman kultwit?

Menyebarkan info kesehatan lewat twitter memang beresiko. Itulah kenapa Erykar Lebang pelaku food combining sering cerewet pada followers-nya supaya mengecek di blog-nya yang tercantum di bio. Syukur-syukur kalau si follower cocok sama info yang disampaikan dan nggak ada konflik serius sama kesehatannya. Kalau fail? Terlebih, info seperti ini riskan banget jadi hoax. 

Sejatinya, kita juga bisa lebih selektif menyerap informasi (dan brief dari klien untuk agensi serta buzzer hehehe) dengan selalu cek dan ricek kebenarannya. Jadilah orang yang kritis terhadap semua info yang datang. Saya pernah dikirimi e-mail tentang bahaya es krim cone McD yang digadang-gadang hasil riset Redoxon. E-mailnya meyakinkan banget, menyebut serentetan kosa kata ilmiah yang bisa bikin ngeri! Dasar emang riwil, info ini justru saya kroscek ke pihak Redoxon dan jawabannya adalah Redoxon nggak pernah melakukan penelitian soal es krim cone. Untunglah infonya nggak pernah saya forward ke siapa pun (kecuali redoxon sebagai pihak yang diklaim bikin riset) jadi terhindar dari fitnah. Eh menyebarkan hoax juga termasuk fitnah kan?

Pertanyaannya, berani nggak nolak job kalau brief-nya gak sesuai dengan fakta hehehe...


Monday, March 11, 2013

Jajan Nyaman Di Jalanan

Suka jajan?

Murah dan enak, dua alasan utama kenapa jajanan jalanan punya banyak fans. Udah gitu, nggak perlu capek keluar rumah buat kebanyakan kita yang tinggal di Indonesia penjual makanan keliling ini sungguh membantu banget untuk mengatasi kelaparan. Sebut aja: dari bakso, nasi goreng, sate Padang, burger, roti, siomay, rujak, semua tersedia dalam bentuk delivery alias gerobakan (belakangan dimodifikasi motor). Tapi, pernah gak mikir kebersihan jajanan kamu?

Awalnya saya juga gak peduli-peduli amat pada kebersihan dengan ketelitian mendalam sampai suatu ketika pas lagi jajan di rumah teman, sang tetangga nyeletuk santai tapi makjleb. Kepikiran gak berapa kali penjual jajanan langgananmu mencuci tangannya? Mantau gak apa aja yang dilakukan si abang sebelum meracik jajananmu dengan kedua tangannya? Tarakdungces... iya juga. Selain megang-megang duit yang entah-mengandung-berapa-milyar-mikroorganisme dalam setiap sisinya, gimana dengan kebiasaan pipis si abang yang kita gak pernah tau dia pipis-di-man--dan-dengan-siapa *kemudian posesif*.

Lalu suatu hari saya dikenalkan pada spesies penjual bakso bakwan Malang yang beda...

Penampakan gerobak bakso bersih itu...
Gerobaknya sih gak jauh beda sama gerobak bakso bakwan edisi motoran lain, tapi coba kita bedah ada apa di balik gerobak ini... *BRB ambil gergaji mesin*



SI abang bakso bakwan ini menghindari kontak langsung antara makanan dengan tangannya (yang setiap hari menggenggam setang motor mendulang keringat pleus bakteri....) antara lain dengan menggunakan gunting dan jepitan pas motong-motong komponen bakwan. Eh ya, walopun cuma beredar di kompleks abang bakso bakwan juga gak lupa make helm sesuai standar berkendara yang benar lho..



Nah, kalo biasanya abang bakso lain make tangan buat menjamah --tsaaah--- helaian mi dan bihun, abang bakso yang satu ini mengemas bihun dan mi dalam kemasan plastik kecil sesuai takaran. Ehm, yang ini rada gak eco-friendly sih >,< 

Oh ya, yang khawatir soal jenis saosnya, gak pake khawatir lagi ya. Soalnya, berdasarkan hasil wawancara dengan si abang bakso bakwan ini, saos yang dipake pun bukan saos-abal-abal-dari-cabe-busuk-dan-ubi-berulat kok. Meski gak nyebut merk, tapi setelah saya icip-icip rasa saosnya mirip saos sambal (dan saos tomat) kemasan yang branded itu. Dan, dengan kemasan botol squeeze kayak di warung bakmi untuk meminimalkan kontaminasi saos yang tumpah. Doooh bahasanya XD. Dan jangan lupa, untuk aksesoris macam daun bawang+seledri sama bawang goreng, disediakan sendok masing-masing dalam mangkok tertutup. 



Seandainya ya... semua jenis jajanan jalanan menerapkan prinsip-prinsip hieginitas kayak gini mungkin para ortu nggak perlu cemas pada jajanan yang beredar di jalanan atau sekolah ya? Denger-denger sih bakso bakwan yang memasang brand "Bakso Malang Tenan" ini binaan salah satu institusi pemerintahan di kawasan Citayam. Mudah-mudahan aja segera merambah ke wilayah lain biar gak cuma warga Citayam yang bisa merasakan bakso enak, bersih, dengan harga murah ini..

Thursday, February 28, 2013

Dear Blackberry...

Jadi gini... *ter-om Ded*

Blackberry satu-satunya milik saya, warisan dari pak bos terdahulu, akhirnya wafat juga setelah bertahun-tahun menemani saya kerja--menebar jala jejaring sosial--pacaran--dan berburu haratisan sebagai kuis hunter di twitter. Meninggal di penghujung tahun naga, setelah beberapa hari koma akibat terjatuh dari ketinggian sekitar 80cm pada bagian frontal-temporal. Menurut diagnosis, blackberry tipe 9650 alias Odyn itu menghembuskan nafas terakhir dengan kerusakan pada spare part sebagai komponen internal yang vital. Dan, untuk transplantasi organ vital tersebut butuh waktu lumayan panjang karena belum tersedia donor. Hiks...  T______T Padahal, sebelumnya si Odyn ini sudah lumayan sering jatuh dengan posisi punggung lebih dahulu dan gak bermasalah lho. So, yang dicibir orang kalau BB itu lemah gak sepenuhnya benar! 

Meski si Odyn takkan pernah terganti *nyanyik gaya Marcel*, nyatanya saya tetap membutuhkan blackberry untuk menunjang aktivitas seputar gawean dan pergahulan. Banyak beberapa koleha memang masih mengandalkan BBM untuk sekedar chit-chat yang seringkali berujung pada kesempatan nyetak duit. Bayangin dong, gak sedikit peluang melayang akibat ketiadaan si BB ini. Psst... harap maklum ya, gak semua orang berduit paham dan ngerti ada aplikasi chat lain macam WhatsApp atau Line dan KakaoTalk! Makanya, saya pun mulai melirik-lirik BB mana yang layak jadi pilihan. 

Biar butuh tapi tetep picky! Layar sentuh adalah favorit saya buat interaksi di perangkat selular. Makanya, saya rada-rada telat make BB karena gak suka papan kunci qwerty dan mulai menyukai anggota keluarga buah berry hitam ini setelah kenal mas Odyn. Perburuan dan browsing pun dimulai pada beberapa jenis BB berlayar sentuh yang jumlahnya tentu aja gak banyak. Sampai akhirnya...jreng jreeeeng *cabikan gitar Yngwie Malmstein sebagai sound effect* suhu RIM Blackberry di Indonesia sodara Didit @lynxluna bilang sabar aja sampe BB10 edisi user (yang tahun lalu beredar itu huseus developer alias AlphaDev!). Jadi penasaran, apalagi tinjauan di beberapa media dihital maupun cetak tentang si bungsu besutan Blackberry ini jadi salah satu perangkat paling ditunggu (selain jodoh tentunya).

Penampakan si BBZ10 seperti dilansir oleh situs resminya 
Di mana lagi buku suci dihital buat pemake ponsel pintar yang identik dengan pebisnis BB kalau bukan di IDberry yang tentu aja udah membeberkan banyak banget bocoran tentang BBZ10. Yah, kalo soal tampang yang udah full layar sentuh dan printilan canggih penunjangnya memang udah banyak yang bahas. Tapi setelah baca di sini dan serunya si BBZ10 ini juga udah rame jadi obrolan anak tuiter sik.  Bahkan konon para anggota FPi (Fanboy Pecinta iPhone) pun termehek-mehek dibuatnya >,< Apalagi sayah yang sungguh mendambakan bisa memiliki kembali satu saja spesies Blackberry ini huhuhuhu *begging om Ded*.  

Dengan segala kerendahan hati dan hak sepatu, maaf banget ya belum bisa ngobrol banyak tentang spesifikasi teknis dan kecanggihan di balik tampilan cantik kakak kandung BBQ10 ini (FYI, BBQ10 adalah versi low end untuk BB dengan OS 10 bagi pecinta papan kunci qwerty--CMIIW) kalau belum nyoba sendiri hihihi #kode.

Kalo bandwidth kamu cukup berlebih buat sekedar tengok-tengok penampakan si BBZ10, monggo dicek video-nya deh. Sudah cukup bisa membuatmu jatuh cinta?



Sumber video: YouTube tentu saja!

Friday, February 08, 2013

Temen Baru Akuuuuh.....

Sudah lama juga saya mendambakan pengen banget menambah koleksi gadget. Bukan buat gaya-gayaan semata, tapi karena tuntutan pekerjaan yang membutuhkan mobilitas dan selalu terkoneksi dengan internet setiap detik. Faktor jarak membuat saya musti berpikir ulang untuk menggotong-gotong laptop. Kebayang gak sih kombinasi commuter line-bis-motor-jalan kaki aja udah cukup bikin kurus, apalagi kalau ditambah musti membopong benda seberat 1,3kg dalam tas? Kapan gemuknya..... >,<

Terus terang, tablet dengan ukuran layar 7" adalah pilihan yang tepat. Tapi ya, dengan status pengangguran freelancer yang income-nya masih fluktuatif tentu saja saya musti berpikir ulang sebelum memboyong produk besutan vendor beken asal negeri ginseng dong. Bisa-bisa dikeplakin para financial planner yang rajin banget ngingetin bujet dana darurat ~~~~~~/o/  Sementara untuk produk sejenis dengan pabrikan yang belum jelas juga riskan. Biar kere asal picky

Untungnya, bisik-bisik tetangga kiri-kanan-atas-bawah sampailah saya pada piranti keluaran SmartFren ini. Dari sisi tampang, produk dengan label New AndroMax Tab yang merupakan pemutakhiran perangkat sejenis ini, cukup manislah buat ditenteng-tenteng dan gak terlalu menambah berat beban tas saya.




^Ukuran si New AndroMaxTab 7" dibandingin KTP, gak menuh-menuhin tas kan?

Spesifikasi teknis New AndroMax Tab 7 ini sendiri, cukup mumpuni. Antara lain dilengkapi prosesor berkekuatan 1GHz Cortex ARM A9, internal storage 8GB, serta layar selebar 1024 x 600 TFT LED yang kinclong. Untuk OS, perangkat ini menggunakan Android Ice Cream Sandwich.  Detailnya bisa cek di sini ya. Meski bukan penyuka fotografi, iseng2 saya mengetes kejernihan kamera berkekuatan 3MP yang dibenamkan di sisi belakang (oh ya, ada dua kamera pada perangkat ini. Buat video call atau foto narsis kamera depan 2MP saja):

^Foto pertama, diambil dalam remang cahaya bioskop, pas premiere Hello Goodbye. Gimana?

^Foto kedua, dalam kondisi cukup cahaya di dalam Commuter Line yang bergerak. Lumayan clear ya?


  ^Foto ketiga: ritual wajib sebelum makan, pengambilan jarak dekat <30cm .="" font="" nbsp="">

Sesuai peruntukan sebagai piranti penunjang kerja, saya memang langsung mengoptimalkan untuk mengunggah berbagai aplikasi seperti e-mail, twitter client, dan pengolah dokumen (semuanya aplikasi haratisan hehehe). Helpful banget ketika musti meng-update content social media yang saya handle sementara saya masih keluyuran di jalan.  Jadi, ngeksis-eksis di berbagai event bisa terus berjalan tanpa ganggu kerjaan hehehe XD. Kekuatan baterai hi-capacity L-polimer 4000mAH yang dimiliki juga membebaskan saya dari kewajiban colok-mencolok jika seharian berada di luar rumah, dengan catatan sinyal operator musti lancar jaya. (Dalam keadaan sinyal yang kurang bagus, biasanya di pelosok, dalam sehari biasanya saya musti nge-charge 2-3 kali). 

Dengan bandrol 1,6juta saja menurut saya sih produk ini cukup lah buat modal kerja mobile. Satu hal yang saya rasakan kurang, adalah port untuk pengisian baterai yang super selektif alias belum bisa menerima "colokan" selain bawaan pabrikan. Lumayan merepotkan ketika kita berada di lokasi yang gak memungkinkan buat nge-charge. Padahal, dengan kemampuan gandanya melakukan wifi tethering, New AndroMax Tab 7" ini ngebantu para fakir internet dan ketergantungan wifi lho! 

Monday, February 04, 2013

Nge-Jakarta! Bareng GoodReads Indonesia

Postingan pertama 2013! *nunduk malu*

Memperlebar jaringan pertemanan dan lingkaran gahul, Minggu sore saya meluncur ke sebuah kafe mungil di kawasan Sabang. Agak nyempil memang, tapi signboard dengan warna merah membara cukup membantu mengenali kafe yang ternyata baru berumur tujuh bulan itu. Atmosfir kafe D'Marco ini langsung mengingatkan saya pada suasana di kafe-kafe sejenis yang banyak sekali bertebaran di Semarang. Mungil, dan sangat welcome pada komunitas buat beraktivitas. Well, sore itu D'Marco memang di-booking Good Reads Indonesia yang merupakan kumpulan pecinta buku dan member Good Reads untuk wilayah Indonesia. Komunitas yang sudah lama sekali saya kenal tapi baru sempet ikutan kopdar lagi pasca pengembaraan saya di Semarang hag hag hag...

Kumpul-kumpul sore bareng GRI kali ini istimewa karena tamu yang hadir jauh-jauh datang dari Eropa buat mengupas buku terbarunya bareng. OK, ini lebay. Yang betul. Christophe Thomson alias Chris yang di twitter dikenal sebagai @thomsonchris ini memang berdarah Inggris-Perancis tapi sudah lumayan lama bermukim di Indonesia dan menelurkan satu novel dengan judul Jakarta!


Gaung Jakarta! sudah lama saya dengar tapi sama sekali nggak terbayang kalau novel perdana pria berusia 30 tahun ini mengambil tema petualangan seorang pembunuh bayaran bernama Edwin. Eh, wow! Kalau biasanya para bule lebih senang menggambarkan kisah romansa atau keindahan nusantara, maka Jakarta! justru memaparkan perjalanan Edwin di berbagai kota di seluruh dunia termasuk Jakarta. Chris sendiri mengakui, sebagian besar isi novel adalah pengalaman pribadinya lho *langsung berharap profesi pembunuh bayaran bukan bagian dari Chris yang tercatat dalam novel ini*.

Terus terang saya belum baca novelnya, dan kemarin sempat mengintip sedikit dari buku setebal 376 halaman tersebut. Chris menulis novel ini dalam bahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan oleh penerbit. Jadi, no wonder kalau kita serasa membaca novel terjemahan khas Gramedia hehehe... Apa pun, apresiasi buat Chris yang bukan berprofesi penulis hingga dapat menghasilkan sebuah karya fiksi dengan genre petualangan. Nggak gampang lho, sungguh!

Obrolan selama dua jam tersebut rasanya bukan cuma tentang buku dan diri Chris, meluas pada cara pandang seorang "bule" yang jatuh cinta pada negeri ini meski banyak label buruk disematkan pada Indonesia. Untuk kesekian kalinya, kita musti berkaca lagi gimana membangun optimisme pada negara besar bernama Indonesia. Pandangan politik serta prediksi pria Eropa ini, sedikit banyak ikut menggelitik kebangsaan kita yang lagi lucu-lucunya ini. Saya sih, optimis banget anak-anak muda Indonesia masih banyak yang care sama negerinya. 

BTW buat yang doyan baca dan ingin memperluas jejaring sambil cari jodoh, nggak ada salahnya ikutan kopdar-kopdar GRI deh. Info kopdar berikutnya update terus di twitter @bacaituseru kok, follow ya!

Foto hasil sumbangan @21pu3
 
 

Popular Posts